Kapal Tebu: Selimut Manis dari Kebaikan di Maulid Nabi

 

Iskandar (kiri) dan temannya memperlihatkan bendera khas Aceh Alam Peudeuëng, dan Lebanon, untuk hiasan “Kapal Tebu”, Minggu (7/9). Foto: M Ilhamdi S/kumparan

Pagi yang berkabut tipis di Desa Bayeun, Aceh Timur, terasa tenang. Angin membawa bau gulai, bunyi shalawat membasahi udara, dan suara anak-anak yang tertawa semua itu hadir dalam kebersamaan. Di sana, di halaman meunasah setempat, berdiri sebuah perahu kecil bukan di air, melainkan di tanah berpasir. Di dalamnya, sebuah mesin giling tebu sederhana meneteskan air manis ke gelas plastik. Perahu itu disebut warga “Kapal Tebu”, milik petani tebu bernama Iskandar.

Tetesan Keringat, Tetesan Manis

Iskandar bukan figur publik. Ia adalah petani tebu dari Dusun Cot Kala, dengan tangan bersahaja dan hidup pas-pasan. Namun di Maulid Nabi, ia berubah menjadi penyambung harapan. Hanya sesederhana gilingan tebu rakitan, ia memberi air manis gratis kepada anak-anak yang datang, para janda, dan siapa saja yang lewat. “Kalau ada yang bisa saya bagi, kenapa harus ditahan? Hidup ini bukan soal untung rugi,” katanya dengan rendah hati. 

Mesin itu bukan mesin canggih. Ia dibangun dari tabungan sederhana dan keuletan. Tapi setiap putaran mesin, tiap gelas yang terisi, anak-anak tersenyum—itu sudah lebih dari cukup bagi Iskandar. 

“Kapal” sebagai Simbol dan Hiburan

Uniknya, “Kapal Tebu” tidak hanya berfungsi sebagai tempat menampung gilingan tebu, tapi juga menjadi pulsasi kecil kegembiraan. Iskandar menghiasnya seperti kapal sungguhan. Bendera khas Aceh “Alam Peudeuëng” dan Lebanon menghiasi sisi-sisinya. Bocah-bocah yang melihatnya berdecak kekaguman. Ada yang berkata: “Lucu ya, kayak kapal betulan.” Semua tawa itu menambah riang perayaan.

Arti dari Berbagi

Saat antrean panjang di sisi “kapal” itu tak lepas dari kerinduan terhadap kehangatan manusia. Seorang ibu meneguk air tebu, sang anak tersenyum. Di mata Iskandar, momen-momen kecil itu adalah makna besar keluarga, komunitas, dan warisan. Ia berharap semoga Dayah Zawiyah Cot Kala, dayah tua yang dahulu jaya, bisa hidup kembali; agar anak-anak bisa belajar agama lebih baik, warisan ulama tetap terjaga. 

Saat senja mulai merunduk, udara yang dingin menyapa. Tapi di “Kapal Tebu”, hati masyarakat terasa hangat. Antrean tak kunjung sepi. Bocah kecil menepuk tangan Iskandar, berkata:

“Pak, terima kasih. Manis kali air tebunya.”

Iskandar menunduk dan berkata lirih:

“Yang manis bukan air tebunya, Nak. Yang manis itu kalau kita bisa saling berbagi.” 

Refleksi: Manis Juga Ada di Sederhana

Feature “Kapal Tebu” bukan cuma soal tebu dan air manis. Ia tentang keseharian yang penuh cinta. Tentang seseorang yang memilih berbagi, meski kondisinya biasa saja. Tentang tradisi keagamaan bukan hanya ritual, melainkan ruang solidaritas. Ketika banyak yang mengukur rezeki dari besar kecilnya materi, Iskandar menunjukkan bahwa ada manis yang lahir dari hati dengan memberi, tanpa pamrih.


Post a Comment

0 Comments