![]() |
| Poster film "Sore: Istri dari Masa Depan |
Kisah di Balik Keputusan Besar
“Sore: Istri dari Masa Depan” resmi ditunjuk sebagai wakil Indonesia untuk ajang Academy Awards ke-98 tahun 2026, pada kategori Best International Feature Film. Produser Suryana Paramita menyebut ini sebagai momen yang lebih dari sekadar penghargaan bahkan sebuah pembuktian bahwa karya lokal bisa mendapat tempat di peta perfilman dunia.
Dari rumah produksinya, Cerita Films, harap dan doa mengalir deras. “Semoga ini menandai awal baru untuk film kami, setelah menerima respons positif seperti di Indonesia,” ucap Suryana.
Antisipasi yang Disiapkan Lebih Awal
Tak seperti kadang-kadang keputusan pengiriman film ke Oscar datang mendekati batas waktu, kali ini komite seleksi memilih Sore jauh lebih awal. Pengamat film seperti Amelia Hapsari melihat ini sebagai strategi yang matang waktu kampanye lebih panjang memungkinkan film untuk dikenal lebih luas, bukan cuma di Indonesia.
Sejak 1987, Indonesia sudah mengajukan 27 film ke Oscar. Meski belum pernah masuk nominasi, usaha tidak pernah surut. Sore hadir sebagai bagian dari tradisi itu tetapi kini dengan optimisme yang lebih besar.
Lebih dari Sekadar Layar
Cerita film ini sendiri membawa elemen fantasi romantis: Jonathan, seorang fotografer yang tinggal di Kroasia, terkejut saat bangun pagi dan menemukan wanita bernama Sore, yang mengklaim sebagai istrinya dari masa depan. Ia datang bukan sebagai siluman tanpa rupa, melainkan sebagai penanda harapan, bahwa masa depan bisa diperbaiki lewat langkah sederhana hari ini.
Sineas di balik “Sore” tahu tantangannya tak kecil: bersaing dalam industri global, memikat perhatian banyak pihak, dan meyakinkan bahwa film berbahasa asing dari Indonesia bisa berbicara universal. Mereka pun bersiap dengan strategi kampanye, dukungan penggemar film lokal, dan upaya memoles kualitas supaya tak “hanya jadi wakil”. Refleksi: Harapan, Strategi, dan Komunitas
Di balik gemerlap poster dan gala premiere, Sore bukan cuma soal film. Ia adalah cerminan harapan banyak orang: sutradara, produser, pemain film, dan para penonton yang terlahir dari pengalaman, kritik, dan cinta pada karya seni lokal.
“Awal baru” bukan klaim kosong. Ia muncul dari kerja keras pagi-pagi di studio, malam-malam diskusi tentang naskah, kesabaran dalam proses produksi, dan keberanian untuk bermimpi bahwa suatu hari, suara kita yang berbahasa selain Inggris bisa didengar di panggung seperti Oscar.

0 Comments