Datang Terlambat, Pulang Tak Penuh


Oleh : Firman Adhi Setyawan

Pagi itu kakiku melangkah menuju kelas di lantai tiga sambil sesekali aku mengecek waktu di ponsel yang mulai menunjukkan pukul 10. Langkah kakiku berhenti di depan kelas dan aku masuk ke ruangan. Kelas hari itu berisi mata kuliah favoritku, namun aku melihat hanya beberapa temanku yang sudah datang. Tak lama kemudian dosenku datang dan aku antusias ketika kelas dimulai.

Perkuliahan sudah berlangsung selama 15 menit, aku mendengar suara pintu yang dibuka, sontak mataku langsung tertuju pada sekelompok temanku yang baru saja datang. Mereka langsung menuju ke arah meja dosen, “Pagi pak… .” Ucap salah satu dari mereka. Aku mendengar percakapan mereka, namun aku kebingungan tidak ada yang menyebut kata maaf karena mereka terlambat.

Ketika teman temanku duduk dibangku masing masing, aku melihat dosenku berdiri menghampiri ke tengah ruangan dan bibirnya membentuk senyuman tipis sambil mengatakan “Kalian tuh mau jam 7, mau jam 9, atau 10… tetap saja telat ya.”Ucapnya. Mendengar ucapannya aku langsung teringat bahwa benar, walaupun jadwal cukup sering berubah mereka tetap saja datang terlambat.

Dikarenakan banyaknya mahasiswa yang terlambat, materi yang seharusnya sudah selesai jadi harus di ulang kembali karena mereka yang tertinggal oleh materinya.

Menurutku mata kuliah ini tak terlalu sulit karena dosenku hanya mengajarkan dasar dasar dari desain yang seharusnya bisa dipelajari dirumah. Namun sesuai perjanjian awal, dosenku selalu mengajarkan materi secara perlahan.

Aku memahami alasan beberapa temanku yang sering terlambat jauh dari kos, kelas pagi, atau jadwal kuliah yang berubah-ubah tanpa pemberitahuan jelas. Tapi di sisi lain, aku juga menyaksikan bagaimana dosenku yang sabar itu perlahan mulai kewalahan. Ia tak pernah membentak, tak pernah menegur dengan nada tinggi. Tapi raut lelah di wajahnya sulit disembunyikan saat harus mengulang materi yang sama untuk ketiga kalinya hanya karena ruang ini tak terisi pada waktunya.

Sampai akhirnya, pada suatu pertemuan, aku menyelesaikan tugas lebih awal. Dosenku menoleh padaku dan berkata, “Kalau sudah selesai, boleh pulang duluan.” Aku mengangguk, tapi tak langsung beranjak. Mataku melihat beberapa teman yang masih menatap layar kosong, bingung pada bagian mana mereka tertinggal. Sebelum pulang, aku duduk di samping mereka, membuka ulang catatan, dan membantu menjelaskan sedikit dari yang kupahami. Bukan karena aku merasa paling pintar, tapi karena aku tak ingin dosenku terus-menerus menanggung beban yang bukan sepenuhnya miliknya.

Baru setelah itu aku keluar kelas. Tangga kampus terasa lengang, tapi di benakku masih ramai oleh satu pertanyaan: mengapa hal sederhana seperti datang tepat waktu menjadi sesuatu yang sulit? Bukankah menghargai waktu adalah bagian dari menghargai orang lain?

Menurut Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, pendidikan seharusnya menanamkan nilai seperti tanggung jawab, kedisiplinan, dan empati sejak dini. Tapi di perguruan tinggi, nilai-nilai itu sering kali memudar di balik ambisi mengejar IPK atau skripsi. Kita lupa, bahwa pendidikan tak hanya soal apa yang tertulis di silabus, tapi juga soal sikap yang tak terlihat di daftar nilai.

Budi pekerti memang tak masuk ke dalam sistem penilaian akademik. Ia tak ada dalam Kartu Hasil Studi, tak tertera di transkrip akhir. Tapi ia hidup di cara kita memperlakukan dosen, menghargai waktu, dan membantu teman yang tertinggal. Ia hidup di setiap keputusan kecil yang kita buat di ruang kuliah.

Maka jelaslah, pendidikan bukan hanya soal memahami teori atau mengerjakan tugas. Ia juga soal bagaimana kita bersikap tepat waktu, bertanggung jawab, dan peduli. Karena budi pekerti adalah pondasi dari intelektualitas sejati.

Post a Comment

0 Comments