![]() |
| Pedagang minyak wangi dan peci meramaikan peringatan Maulid Nabi di Masjid Assaadah, Tanjung Barat, Jakarta Selatan, Jumat (5/9/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan |
Di bawah remang lampu masjid Assaadah, sekitar pukul dua dini hari, Agustian (37) sudah melangkah pelan membawa gerobak kecilnya. Udara Jakarta pagi itu dingin, santai namun sarat harapan. Ia tidur di serambi masjid—bukan karena kelelahan, tapi agar tak kehilangan posisi strategis untuk berdagang saat Maulid Nabi tiba.
Setelah subuh, ketika azan menyapa langit, jemaah mulai berdatangan. Agustian membuka dagangannya: peci dan minyak wangi. Warna peci putihnya bersih menarik perhatian. Minyak wangi dari Condet dan Halim menggoda indera penciuman. Harga? Ada yang lima ribu rupiah, ada juga yang tujuh puluh ribu sesuai jenis dan kualitas.
Di hari-hari rutin, dagangan Agustian tak banyak berubah. Tapi saat Maulid, jumlah jemaah bisa melipatgandakan pembeli. “Bisa sampai Rp 500 ribu sehari di acara besar,” katanya, senyum kecil muncul saat ia melipat meja lipatnya sambil bersiap pindah lapak sore nanti.
Di sisi lain, Ahmad (45), pedagang minyak wangi keliling, sudah terbiasa memanfaatkan tradisi keagamaan sebagai peluang. Dari Bogor, Tangerang hingga penjuru Jakarta, ia mengikuti jejak Maulid. Biaya sewa lapak? Kadang bayar, kadang tidak, tergantung penyelenggara. Yang penting, tempat bersih. Sampah terbuang sehingga dagangan tetap terlihat menarik.
Malam semakin larut ketika keramaian usai. Kedua pedagang ini, dengan tubuh lelah namun hati puas, menyeka keringat dan menata dagangan. Tidur di masjid, kesiangan atau melewati malam sunyi semua mereka lakukan bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi menjaga tradisi agar berharap rezeki yang halal, dari tangan sendiri.

0 Comments